Karyaseni ini dianggap klasik karena telah mencapai puncak atau tidak dapat berkembang lagi, standarisasi dari zaman sebelum dan sesudahnya, serta telah berusia lebih dari setengah abad. Selain dari ketentuan yang sudah kami sebutkan di atas ini, suatu kesenian belum dapat dikategorikan sebagai seni klasik. Macam-Macam Seni Klasik yang Wajib

Seni rupa klasik Indonesia memiliki identitas unik yang khas, tak hanya terlihat dalam karya seni yang dihasilkan, tetapi juga dalam bentuk gambaran hidup masyarakat saat itu. Berbicara tentang karya seni rupa klasik, merupakan sejarah tentang kebudayaan Indonesia yang tidak boleh terlupakan. Pengenalan tentang Karya Seni Rupa Klasik Karya seni rupa klasik Indonesia merupakan hasil seniman yang bercorak budaya Indonesia. Secara umum, karya seni rupa klasik ini sudah berkembang sejak abad ke-8 M hingga abad ke-16 M. Seni rupa klasik Indonesia meliputi seni lukis, seni patung, seni ukir, seni kaligrafi, seni perahu, seni bangunan, dan masih banyak lagi. Pain Points di Balik Karya Seni Rupa Klasik Karya seni rupa klasik Indonesia memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi. Meski demikian, tetap saja ada beberapa kendala yang dihadapi oleh para seniman dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Beberapa diantaranya adalah minimnya peluang pameran karya seni, belum adanya standar kualitas karya seni, adanya pengaruh budaya asing, dan masih banyak lagi. Target dari Karya Seni Rupa Klasik Tidak diragukan lagi, target dari karya seni rupa klasik Indonesia adalah untuk mempertahankan atau mengembangkan budaya Indonesia. Selain itu, karya seni rupa klasik juga memiliki tujuan untuk mengajarkan sejarah dan mengabadikan peristiwa-peristiwa penting yang ada di Indonesia. Ringkasan tentang Karya Seni Rupa Klasik dan Keywords Terkait Karya seni rupa klasik Indonesia memiliki sejarah dan nilai yang tinggi, serta berkaitan erat dengan budaya dan kependudukan Indonesia. Para seniman menghadapi beberapa kendala dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Meskipun demikian, karya seni rupa klasik tetap mempunyai target untuk mempertahankan atau mengembangkan budaya Indonesia, dan mengajarkan sejarah dan peristiwa penting di Indonesia. Pengalaman Pribadi dan Penjelasan tentang Karya Seni Rupa Klasik Saya pribadi telah memiliki pengalaman melihat-lihat karya seni rupa klasik saat berkunjung ke beberapa museum di Indonesia. Salah satunya adalah Museum Seni Rupa dan Keramik di Jakarta. Di sana, saya melihat banyak sekali koleksi seni rupa klasik Indonesia yang mengagumkan. Setiap karya memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi, menjadikannya sangat berharga. Karya seni rupa klasik ini sangat menggambarkan keanekaragaman Indonesia, baik dalam segi keindahan maupun keunikannya. Karya seni rupa klasik Indonesia memiliki teknik dan karakteristik yang unik dan khas, serta memiliki ciri khas dalam setiap zaman dan daerah di Indonesia. Ciri khas itu bisa terlihat dari berbagai elemen yang digunakan seperti warna, motif, dan teknik penggambaran yang menggunakan media seperti kain, kayu, perunggu, tinggi, dan masih banyak lagi. Budaya dan Nilai dalam Karya Seni Rupa Klasik Budaya dan nilai dalam karya seni rupa klasik Indonesia tergambar dalam kepercayaan dan tradisi masyarakat Indonesia. Karya seni rupa klasik ini menjadi media yang memperlihatkan keindahan dan keragaman budaya Indonesia yang menjadi warisan nenek moyang kita. Dari karya seni rupa klasik, kita bisa melihat nilai-nilai seperti rasa syukur, penghormatan, dan penghargaan terhadap lingkungan sekitar. Teknik dan Karakteristik Karya Seni Rupa Klasik Terdapat berbagai teknik dan karakteristik karya seni rupa klasik Indonesia, mulai dari keindahan bentuk, warna yang menggoda, perpaduan motif yang dalam, serta teknik pengolahan bahan yang ideal. Teknik dan karakteristik karya seni rupa klasik ini terus mengalami perkembangan yang signifikan dari waktu ke waktu, meski tidak sedikit pula yang mempertahankan gaya klasiknya. Mengenal Seni Rupa Klasik Bali Bali memiliki keunikan tersendiri dalam karya seni rupa klasiknya. Khususnya pada seni lukis Kamasan. Liang-lincahnya goresan cerita dan motif yang rumit menjadi ciri khas seni lukis Kamasan. Lukisan Kamasan sendiri sering digunakan sebagai media dalam pertunjukan wayang. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Karya Seni Rupa Klasik 1. Apa yang Dapat di Pelajari dari Karya Seni Rupa Klasik Indonesia? Karya seni rupa klasik Indonesia memiliki sejarah dan nilai yang tinggi, serta berkaitan erat dengan budaya dan kependudukan Indonesia. Dari karya seni rupa klasik, kita bisa mempelajari nilai-nilai seperti rasa syukur, penghormatan, dan penghargaan terhadap lingkungan sekitar. 2. Dimana Tempat Terbaik untuk Melihat Karya Seni Rupa Klasik? Beberapa tempat terbaik untuk melihat karya seni rupa klasik Indonesia adalah museum, galeri seni, atau pagelaran seni rupa yang diadakan di beberapa kota besar di Indonesia. 3. Bagaimana Cara Meningkatkan Apresiasi terhadap Karya Seni Rupa Klasik? Cara terbaik untuk meningkatkan apresiasi terhadap karya seni rupa klasik adalah dengan mendatangi pameran seni rupa klasik, membaca buku atau artikel tentang karya seni rupa klasik, atau berpartisipasi dalam diskusi atau seminar tentang karya seni rupa klasik. 4. Apakah Karya Seni Rupa Klasik Indonesia Masih Relevan pada Masa Kini? Jawabannya adalah ya. Karya seni rupa klasik Indonesia tidak hanya memiliki sejarah dan nilai yang tinggi, tetapi juga merupakan potret kebudayaan Indonesia. Dalam konteks globalisasi seperti saat ini, menjaga dan mempertahankan nilai-nilai seni dan budaya Indonesia sangat penting. Kesimpulan tentang Karya Seni Rupa Klasik Secara keseluruhan, karya seni rupa klasik Indonesia merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia. Karya seni rupa klasik Indonesia menggunakan nilai-niai seni dan budaya sebagai sumber inspirasi, dan menjadi wadah untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan Indonesia khususnya nilai dan kearifan lokal, yang meningkatkan kualitas hidup dan kebahagiaan masyarakat Indonesia. Gallery Seni Lukis Wayang Kamasan Bali Photo Credit by / kamasan wayang seni lukis lukisan bali klasik SENI BUDAYA PARAMITHA PERKEMBANGAN SENI RUPA INDONESIA MASA KLASIK Photo Credit by / rupa borobudur klasik budaya paramitha candi budha Contoh Seni Rupa / Sejarah Seni Lukis Dan Contoh Karya Seni Lukis Photo Credit by / seni rupa terapan kayu dinding macam murni karya dimensi ukiran fungsi pengertian hiasan sejarah tradisional koleksi kriya nusantara tutorialbahasainggris tujuan Jenis Karya Seni Rupa 2 Dimensi Dan 3 Dimensi Photo Credit by / lukisan seni rupa dimensi karya alam pemandangan lukis naturalisme manusia pengertian ilustrasi aliran berbagi sejarah indah contohnya kriya realisme dinding 25 Lukisan Bali Beserta Keterangannya – Referensi Gambar Photo Credit by / lukisan tradisional ubud balinese rupa keterangannya beserta klasik basuki abdullah mulo diperoleh pendidikan indonesian kunjungi gak tradisi Gayaseni rupa yang tergolong representatif anatara lain romantis, naturalis, dan realis. - Romantisme. Istilah romantisme berasal dari kata roman yang berarti cerita dan isme yang berari aliran atau gaya. Romantisme adalah gaya atau aliran seni rupa yang penggambarannya mengandung cerita kehidupan manusia atau binatang. The current Balinese culture is the result of the acculturation of the local culture and those that come from outside the island. The acculturation process brings about a variety of styles and ornamental hybrids that can be identified apparently in architecture, dance, clothing, and of course visual art. This paper attempts to find out the spirit of the transformation by reading the history of art. The aesthetics of Balinese visual art is based on the combination concept of the classical Balinese painting and the Western modern art movements. The study is done by studying the achievements accomplished by the Pita Maha. Significant changes have taken place in the framework of Balinese art. From the technical point of view, the introduction of paper, plywood and canvas as painting media provides new stylistic opportunities. Meanwhile from the thematic perspective, secularization of representation occurs; it no longer performs the religious function but holds an economic value. Strong influence of modern science is seen at the organization of space in the composition, perspective and anatomical consideration. Wayang shadow puppet figures are not dominated by formal form anymore. Keywords Balinese Art, Classical Art Kamasan, Puppet, Acculturation, Pita Maha. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free AbstrActe current Balinese culture is the result of the acculturation of the local culture and those that come from outside the island. e acculturation process brings about a variety of styles and ornamental hybrids that can be identied apparently in architecture, dance, clothing, and of course visual art. is paper attempts to nd out the spirit of the transformation by reading the history of art. e aesthetics of Balinese visual art is based on the combination concept of the classical Balinese painting and the Western modern art movements. e study is done by studying the achievements accomplished by the Pita Maha. Signicant changes have taken place in the framework of Balinese art. From the technical point of view, the introduction of paper, plywood and canvas as painting media provides new stylistic opportunities. Meanwhile from the thematic perspective, secularization of representation occurs; it no longer performs the religious function but holds an economic value. Strong inuence of modern science is seen at the organization of space in the composition, perspective and anatomical consideration. Wayang shadow puppet gures are not dominated by formal form Balinese Art, Classical Art Kamasan, Puppet, Acculturation, Pita ragam budaya Bali yang kini berkembang tidak dapat dilepaskan dari dinamika sejarah Bali masa lampau. Kesenian Bali bertautan erat dengan upacara agama Hindu yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Bali. Semua bentuk kesenin di Bali pada mulanya ada kecenderungan untuk menunjang dan mengabadikan kehidupan upacara keagamaan Hindu di Bali. Begitu pula pada kehidupan seni lukisnya yang juga memiliki andil besar terutama dalam upacara-upacara agama Hindu di tempat-tempat pemujaan yang terdapat di seluruh pelosok daerah Bali. Lukisan dianggap sebagai dasar dan bentuk ekspresi kesenian tinggi di Bali. Karya seni tersebut menjadi artefak yang sangat berharga dalam kehidupan ritual dalam tradisi Bali. Artefak ini sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan rohania tentu saja dalam hal pembuatannya baik yang menyangkut penentuan bentuk maupun pemilihan dekorasinya akan terikat oleh adanya aturan-aturan tertentu yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Sebagian dari hal ini disebabkan karena pentingnya upacara tradisional dan hiasan di masa lalu yang merupakan semacam dokumentasi mitologi dan keagamaan. Budaya Bali sekarang adalah hasil akulturasi budaya lokal dan budaya yang datang dari luar Bali sehingga dapat dilihat beragam gaya dan ornamentik dari berbagai pencampuran tersebut dapat dilihat pada arsitektur, tarian, pakaian hingga seni rupanya. Mengenai pencampuran kebudayaan ini seperti yang diungkapkan Timbul Haryono bahwa kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa pada umumnya Pita Maha Koalisi’ EstEtiK sEni luKis KlasiK Bali dEngan sEni RuPa ModERni gEdE aRya sucitRa A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 6Nomor XV / Januari - April 2012dapat disebut maju atau berkembang, apabila di dalamnya terdapat anasir budaya baru. Tumbuhnya anasir budaya baru itu bisa terjadi karena dua kemungkinan, yaitu karena ada penemuan invensi atau karena ada pencampuran akulturasi. Terjadinya proses akulturasi juga disebabkan oleh karakter masyarakat penyangga kebudayaan tersebut, Soedarsono berpendapat bahwa masyarakat Bali sangat dikenal sebagai masyarakat yang sangat terbuka, namun juga sangat kreatif. Pengaruh dari luar seperti apapun setelah jatuh ke tangan seniman Bali selalu lebih berciri Bali. Pada titik ini dapat dicermati bahwa dengan keterbukakaan kreatifnya’ masyarakat Bali mampu menyelaraskan kebudayaan luar yang masuk dan disesuaikan dengan kekayaan lokal jenius ahli yang mengkaji hal ini, menegaskan bahwa unsur dari luar menjadi faktor dominan dalam pembentukan budaya Bali. Dijelaskan oleh Claire Holt dalam buku Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia terjemahan Soedarsono bahwa penyebaran ini dibawa langsung oleh para pendeta atau biarawan dari India, dan juga tercampur lewat kontak dengan kerajaan Hindu di Jawa. Hal itu ditambah dengan kontak-kontak dengan Cina dan beberapa daerah di India Belakang Asia Tenggara mungkin telah menyumbangkan pembentukan kebudayaan Bali dan seninya. Sedemikian besar pengaruh kebudayaan Hindu Jawa pada kebudayaan Bali khususnya dalam seni lukis. Menurut data arkeologis, seni rupa prakolonial Bali adalah warisan dari tatanan ideo-religius budaya agraris Hindu-Buddha yang berkembang di Bali sejak paling sedikit abad ke-10, ketika didirikan kerajaan-kerajaan “ter-India-kan” yang pertama. Sementara seni lukis baru dikenal sekitar abad ke-11, ketika sejumlah prasasti yang dikeluarkan ¬oleh Raja Anak Wungsu memberikan tanda-tanda adanya kelompok yang mempunyai kelompok yang mempunyai keahlian melukis. Dalam analisa Jean Counteau, seorang antropolog dari Prancis, ragam budaya Bali pra-penjajahan merupakan pembauran antara unsur pribumi lokal dengan aneka unsur Indo-Jawa, yang terutama masuk menyusul invasi Majapahit tahun 1343. Selanjutnya bentuk seni rupa di Bali mengalami perkembangan yang berbeda dengan daerah di Jawa. Bentuk perubahan ini bersifat sebagai penyesuaian terhadap karakter orang Bali yang ekspresif, dengan kasar dalam lelucon serta bersungguh-sungguh; mewah dengan warna-warna emas dan terang musiknya, walaupun kaya dan melodis, adalah karakteristik eksplosif meledak-ledak. Dalam pandangan Alvin Bosko ada dua teori tentang perubahan sosial budaya, yaitu teori-teori eksternal dan internal. Teori eksternal memandang bahwa inti terjadinya perubahan budaya disebabkan oleh adanya kontak antar-budaya berbeda, sedangkan perubahan internal disebabkan oleh adanya dorongan perubahan dari dalam masyarakat itu sendiri. Untuk menguatkan pandangan di atas, William A. Haviland mengemukakan bahwa mekanisme yang terlibat dalam perubahan kebudayaan antara lain adalah akulturasi. Seiring perkembangan kebudayaan dan pengaruh dari luar tersebut, maka berkembang pula teknis penciptaan, bentuk, fungsi dan makna dari lukisan tradisional Bali. Pokok permasalahan tulisan ini akan melacak perkembangan dan menganalisa proses akulturasi estetik antara seni lukis Bali klasik gaya Kamasan dengan persentuhan pengetahuan seni rupa modern yang diperkenalkan pelancong Barat yang masuk melalui proses kolonisasi penjajahan Belanda pada awal abad ke-20. Selanjutnya akan ditemukan varian-varian turunan seni rupa di Bali dan dengan segala perbedaan konsep, tema, material lukis hingga teknis penciptaannya. Perpaduan ini kemudian melahirkan seni lukis Pitamaha yang Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modern A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 7Nomor XV / Januari - April 2012berkembang pesat pada era 1930-an di desa Ubud, Gianyar seni ruPa klasik BaliUntuk mengetahui perkembangan kesenian di desa Kamasan, dapat diamati pada peninggalan artefak sebagai bukti perjalanan kebudayaan di desa tersebut. Berdasarkan bukti arkheologis yang ditemukan seperti tahta-tahta batu, menhir, lesung batu, palungan batu, monolith yang berbentuk silinder, batu dakon, lorong-lorong jalan yang dilapisi batu kali, ditemukan tersebar di desa-desa Kamasan dan sekitarnya seperti Tojan, dan Gelgel. Hal ini menandakan bahwa, komunitas di sekitar Kamasan berumur cukup tua, serta menunjukkan juga bahwa ketrampilan teknik tradisi megalithik telah mereka kenal sebelum kedatangan pengaruh Hindu. Ketrampilan para undagi dan ke-pande-an yang berasal dan tradisi megalithik ini telah diturunkan kepada generasi berikutnya. Pada jaman Gelgel, oleh raja Gelgel Ida Dalem para pande dimanfaatkan untuk memproduksi benda-benda logam berukir seperti bokor, dulang, pinggan, tempat minum dan benda-benda lainnya yang digunkan sebagai perlengkapan rumah tangga, perhiasan maupun benda-benda perlengkapan Keraton Suweca Linggaarsa Pura Gelgel. Selain seni ukir berkembang pula seni lukis wayang sebagai hiasan di atas kain yang berupa bendera Kober, umbul-umbul, lontek, dan hiasan ider-ider, tabing dan parba. Lebih jelas lagi dengan adanya tulisan yang menyebutkan bahwa pada waktu Dalem Ketut Semara Kepakisan Raja Bali setelah mengikuti upacara Sradda di Majapahit pada tahun 1362 membawa sekeropak Wayang kesenian. Seni tari topeng dan wayang disebut dengan istilah Parbhyang Prasasti Benetin bertahun Saka 818 atau 896 Masehi dan juga istilah Aringgit pada masa raja Anak Wungsu, 1045-1071 Masehi. Istilah tersebut tidak jauh beda dengan istilah bahasa Jawa halus untuk wayang, juga disebut Ringgit. Pada salah satu prasasti itu terdapat goresan bermotif wayang yang menggambarkan ¬Batara Siwa. Perkembangan seni lukis ini selanjutnya terlihat nyata pada naskah-naskah ¬kuno yang berupa lontar-lontar. Kitab lontar biasanya berisikan cerita legenda ataupun cerita wayang, dengan menggunakan ilustrasi gambar yang selalu tampil indah. Gaya yang dipakai ialah seperti tampak pada pahatan dinding candi zaman Majapahit, yaitu gaya wayang dengan komposisi bidang datar yang padat dan sarat stilisasi. Gaya lukis pada lontar inilah yang rupanya menjadi cikal bakal perkembangan seni lukis Bali klasik. Seni lukis yang dikenal pada waktu itu didominasi oleh genre wayang’; yaitu merupakan ilustrasi naratif baik cerita maupun ikonogranya diturunkan langsung dari kesenian wayang. Seni lukis tradisional yang paling menonjol sampai saat ini di Bali adalah seni lukis klasik gaya Kamasan. Pelukis-pelukis Kamasan biasanya anonim dan merupakan pusat kesenian tradisional Bali yang berhubungan dengan pahlawan-pahlawan epos seperti Arjuna, Rama, Abimanyu, dan Hanuman. Fokus dari lukisan mereka terutama pemandangan-pendangan atau episode yang membawakan pesan-pesan orang suci, keberanian, kekuatan, peperangan, pembaktian diri dan kebijaksanaan yang banyak terdapat dalam Mahabharata dan Ramayana. Fungsi dari seni lukis pada waktu itu terutama untuk kepentingan adat, pura dan puri. Seni lukis dipersembahkan untuk hiasan pura, ritual agama, balai adat, serta untuk menghias tempat tinggal raja dan punggawa. Tema lukisan dari cuplikan epos Ramayana, Mahabrata, cerita legenda setempat seperti Malat Panji, Cupak Grantang, Calonarang serta sejumlah cerita tantri lainnya. Di wilayah Bali Aga di Karangasem, tepatnya di desa Julah, berkembang seni lukis wayang Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modern A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 8Nomor XV / Januari - April 2012Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modernyang bentuknya lebih sederhana dibandingkan dengan seni wayang Kamasan. Di Ubud seni lukis klasik yang berkembang sangat menyerupai seni lukis wayang Kamasan. Sekitar pertengahan abad ke-19 di desa Kerambitan berkembang seni lukis wayang yang menampilkan bentuk dan ekspresi wajah yang kuat dengan pemanjangan pada bentuk kaki dan tangan sehingga menjadi berbeda dengan gaya dari segi motif lukisannya menekankan pada motif wayang dengan corak yang bersifat dekoratif. Dengan latar belakang sosiokultural dan religius masyarakat Hindu yang dibawa Majapahit, masyarakat mendapatkan pengalaman estetiknya lewat ritual upacara dan cerita-cerita dari kitab ajaran yang menjadi pedoman dalam kehidupan tiap anggota masyarakatnya. Karya-karya yang ditampilkan merupakan ilustrasi naratif baik cerita maupun ikonogranya diturunkan langsung dari kesenian wayang. Kebudayaan tradisional yang bersifat kolektif di Bali menghasilkan karya-karya seni rupa yang bersifat simbolis dan bernilai sakral. Di Bali lukisan tradisional merupakan bagian dari berbagai upacara Punca Yadnya yang diterapkan pada Tubing, Ider-ider, Langse serta Kober, demikian juga halnya dengan lukisan wayang klasik gaya Kamasan, serta Rerajahan yang biasanya dikerjarupakan oleh sangging sehingga karya tersebut punya nilai taksu. Pelukis termasyur yang melukis dengan gaya klasik adalah Nyoman Mandra dari tradisional/klasik masih merupakan tradisi yang hidup di kalangan seniman-seniman di desa-desa seperti Kamasan Klungkung, Amlapura Karangasem, Krambitan Tabanan, Nagasepaha Buleleng, Bedahulu, Pengosekan, dan Sebatu Gianyar.Berikut beberapa karya lukisan Klasik Bali gaya Kamasan. A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 9Nomor XV / Januari - April 2012LAhirnyA PitA MAhA sebuAh KoALisi estetiK yAng eLegAnGelombang perubahan pada Seni Rupa Bali pada dekade awal abad ke-20 memasuki dunia baru dengan kedatangan bangsa Barat yang masuk lewat kolonisasi oleh Belanda. Bila dirunut lebih jauh masuknya pengaruh bangsa asing dimulai dengan invasi Belanda di Bali, Belanda sejak awal abad ke-19 berusaha menguasai Bali lewat ikatan-ikatan perjanjian dengan raja-raja dan perorangan atas kekuasaannya. Setelah Belanda melakukan penaklukan raja-raja di Bali pada tahun 1845 hingga 1908 yang kemudian membuka celah perubahan seluruh landasan sosial politik seni rupa prakolonial Bali. Diberlakukannya politik ekonomi liberal sekitar tahun 1870-an oleh pemerintah Hindia Belanda, mendorong kemakmuran bagi kelompok masyarakat Belanda hal ini menimbulkan beberapa perubahan pada kehidupan kesenian di Bali yang mengalami kecendrungan untuk lebih terbuka dengan banyak hal baru yang dibawa bersama kedatangan bangsa asing. Dampak penaklukan Bali oleh Belanda langsung terasa pada seni rupa. “Pasaran” baru terbuka produksi bertambah secara drastis melampaui permintaan religius dan kuasi-religius prakolonial. Dan oleh karena “pasaran” tidak lagi membutuhkan simbol-simbolagama, tema-tema langsung berubah. Selain itu, oleh karena bahan dan alat baru untuk memperkaya teknik melukis dan efektivitas mulai beredar, dinamika stilistik pada karya seniman pribumi dipercepat. Semakin Bali di-bali-kan. Semakin siap dikonsumsi. Evolusi seni rupa Bali dimulai di Buleleng Bali Utara, meski menyangkut segi yang sekunder. Pada awal abad ke-19 sudah dibuat gambar dari kertas yang hanya berisi satu adegan saja dan bukan narasi lengkap yang menampilkan serentet aneka adegan naratif. Pada akhir abad ke-19 di Singaraja, Van Der Tuuk, seorang ahli linguistik Belanda, memesan beberapa gambar pada beberapa informannya, dan gambar tersebut sudah memperlihatkan awal dari strukturasi ruang, menggantikan penempatan unsur ikonik secara sejajar, baik horizontal maupun vertikal. Pada awal abad ke-20 pematung-pematung Buleleng sudah menempatkan unsur tematika baru misalnya orang bersepeda dalam ukiran relief puranya. Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa ModernGambar 1. gambar di halaman sebelah Lukisan gaya Kamasan, “Kematian Abimayu”, akhir abad ke-19, bahan tradisional, 100x106 cm. Suteja Neka dan Garrett Kam, 2000, 13.Gambar 2. gambar di halaman sebelah Karya I Nyoman Mandra, 1972, “The Death of Subali”, tinta Cina dan pewarna alami di kain, 71 x cm. Garrett Kam,1993, 138.Gambar 3. atas Gambar Palalintangan ilmu perbintangan, karya I Gusti Mangku Putu Kebyar, 1991. Garrett KAM,1993, 35.Gambar 4. bawah Lukisan dari bagian Palalindon ilmu mengenai gempa bumi yang merupakan bagian ilustrasi dari langit-langit Bale Kerta Ghosa, Klungkung. Garrett Kam,1993, 49. A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 10Nomor XV / Januari - April 2012Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa ModernHal-hal itu sudah memperlihatkan meresapnya unsur-unsur baru pada tatanan seni rupa awal abad ke-20, akhir dasawarsa ’20-an, serta dasawarsa ’30-an, ditengarai terjadi suatu fenomena unik, yaitu intervensi langsung dari seniman Barat yang kelak akan memberikan corak tersendiri pada perkembangan seni pedesaan Bali selanjutnya. Mitos Bali sebagai “surga” dengan berbagai macam sebutan eksotisnya seperti Adrian Vickers “ Bali Paradise Created” mengatakan sebuah pulau surga terakhir’ yang memiliki masyarakat artistik yang harmoni dengan alam, atmosfer hidup yang erotik,….pulau tereksotik dari yang paling eksotik se Asia-Pasik. Peneliti asing dan juga seorang pelukis, budayawan Meksiko, Miguel Covarrubias juga melakukan penelitian yang sangat detail lengkap dengan ilustrasi gambar tangan dan fotogra terutama mengenai pola hidup, kesenian hingga religi masyarakat Bali dalam buku yang sangat melegenda yaitu “Island of Bali”. Daya pukau dari Bali yang dieksotikkan oleh citra wisata kaum kolonial tersebut menarik penjelajahan beberapa seniman asing mulai datang dan menetap, hidup dan berinteraksi dengan para seniman lokal di Bali. Dan diantaranya yang paling terkenal dan berproses kreatif bahkan menetap di Bali adalah gur Walter Spies warga Jerman 1895-1942 dan Rudo Bonnet warga Belanda 1895-1978 yang keduanya akan memainkan peran yang menentukan dalam evolusi seni Bali selanjutnya. Spies datang ke Bali pada tahun 1927 yang disusul setahun kemudian oleh Bonnet. Spies dan Bonnet tinggal di tengah masyarakat Ubud di bawah naungan puri Ubud, Gianyar. Di dalam situasi tersebut dan sebagai seniman, mereka menyaksikan secara langsung perkembangan seni komersial di atas kemerosotan mutunya. Maka lahirlah gagasan untuk membangun dua lembaga yang mampu membantu mengembangkan kesenian Bali sesuai bentuknya dan menjaganya dari kerusakan pengaruh turisme. Hal pertama adalah membangun museum Bali yang kini bernama Museum Puri Lukisan berlokasi di Ubud selain sebagai tempat pelestari budaya Bali juga memilih karya-karya terbaik seniman Bali. Kemajuan perupa Bali dibawah asuhan Walter Spies dan Rudolf Bonnet memberikan inisiatif kepada tokoh budayawan dan seniman antara lain Cokorda Gde Agung Sukawati, Walter Spies dan Rudolf Bonnet untuk membentuk perkumpulan dengan nama Pita Maha yang didirikan pada tanggal 29 Januari 1936 di Ubud. Mereka menyebutnya sebagai the spiritual home of modern art. Figur Walter Spies dan Rudolf Bonnet dianggap guru’ oleh seniman Bali tradisional. Kedekatan antara mereka dengan seniman lokal khususnya Gusti Nyoman Lempad yang merupakan tetangga dari Walter Spies di desa Ubud, menciptakan suasana kreatif estetik. Dimulai dengan pertemanan, lalu mulai melukis dari obyek yang bersamaan mereka mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Seperti yang disampaikan oleh Soedarsono di atas perihal karakter orang Bali yang sangat terbuka dan kreatif, proses transfer ide dan gagasan dalam menilai karya seni antara seniman asing dan seniman lokal terjadi sangat intens dan intim, seni rupa Bali mulai berubah kearah modern. Interaksi persahabatan itu menimbulkan suasana saling memotivasi dalam proses kreatif dua sahabat itu selanjutnya. Rudolf Bonnet banyak memberikan pengetahuan tentang anatomi, komposisi warna dan teknik, sedangkan Walter Spies lebih banyak memberi pengaruh pada bidang ora yaitu pada bentuk pohon yang tumbuh di alam sehingga gaya lukisan lebih naturalistik, namun juga memberikan teori modern Barat, pemberian material seni rupa, bantuan pemasaran dan nasehat sesaat. Hal ini kelak menandakan suatu A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 11Nomor XV / Januari - April 2012Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modernperubahan tematik yang mendasar pada dunia seni lukis Bali. Berikut di bawah ini dapat dilihat karya-karya dari dua pelukis Eropa di atas yang sudah mengadaptasikan lingkungan budaya sekitar Bali melalui media lukisan dengan teknik melukis modern pembaharuan Pita Maha bimbingan Spies dan Bonnet menurut Jean Couteau menghasilkan puluhan seniman bermutu, terbagi dalam beberapa aliran pedesaan, yang mencakup baik seni patung maupun seni lukis antara lain Aliran seni ukir “halus”, aliran seni lukis Ubud, aliran seni lukis Batuan, aliran gaya Pita Maha juga berkembang Sanur dengan gaya lukisan yang terinspirasi oleh laut dan kehidupan sehari-hari. Salah satu ideologi yang ditawarkan Spies dan Bonnet melalui Pita Maha adalah perluasan dalam horizon penciptaan. Jika sebelumnya pada ideologi seni lukis klasik Kamasan, tema lukisan seputar mitologi, kesucian dan spiritualitas, lalu oleh Pita Maha bahwa tema seni lukis Bali tidak harus berputar kepada mitologi, tidak semustinya terkungkung oleh kekhusyukan religi. Bahwa seni Lukis Bali seharusnya memiliki sifat individual sebagaimana kaum modernis Eropa dan Amerika menawarkan secara konsepsual. Dan bahwa seni lukis Bali boleh saja sekuler. Kelompok Pita Maha ini menghasilkan pelukis-pelukis “tradisional modern” seperti , Ida Bagus Made Poleng, Ida Bagus made Nadera, sampai Ketut Regig. Bahkan sebagian nampak “sangat modern” sebagaimana yang dipresentasikan oleh Anak Agung Gde Sobrat, Ketut Regig dan Dewa Putu Bedil. Aktivitas Pita Maha praktis berhenti ketika perang dunia II meletus dan memaksa Rudolf Bonnet melarikan diri dari Bali akibat diusir bangsa Jerman dan Walter Spies wafat di laut Makasar akibat kapalnya di bom Jepang pada 1942. Transformasi terjadi di dalam kontinuitas, denyut nafas Pita Maha sempat diperpanjang staminanya oleh kehadiran Golongan pelukis Ubud tahun1956, sempat disela oleh “ideologi” seni lukis lain seperti Young Artis di Penestanan asuhan Arie Smith tahun 1960. Pada generasi tahun 1980-an lahirlah era seni lukis pasca Bonnet yaitu Pita Prada. Munculnya aliran baru Gambar 5. Karya Rudolf Bonnet “Arjuna Wiwaha” 1953, pastel pada kertas, 88 x 74 cm. Yayasan Dharma Seni Museum Neka, 2007, 68.Gambar 6. Karya Walter Spies “Die Landschaft und ihre Kinder” cat minyak pada papan, 62 x 91 cm. M. Agus Burhan, 2008, 35. A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 12Nomor XV / Januari - April 2012Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modernini berusaha menyingkirkan bayang-bayang Pita Maha dengan cara mencari identitas personal dengan berguru kepada situasi dunia modern yang dipenuhi teknologi informasi. Berikut beberapa karya-karya seniman Pita 8. Karya I Gusti Ketut Kobot, 1953, “Coiled by the Serpent Lasso”, tinta dan tempera di kertas, 53 x 73 cm. Suteja Neka dan Garrett Kam, 2000, 14.Gambar 9. atas Karya Anak Agung Gde Sobrat, 1970, “Bumblebee Dance”, tinta dan tempera di kanvas, 97 x 132 cm. Suteja Neka dan Garrett Kam, 2000, 22.Gambar 10 bawah. Karya Dewa Putu Bedil, 1975, “Ritual Flirtation Dance”, akrilik di kanvas, 85 x 135 cm. Suteja Neka dan Garrett Kam, 2000, 21.Gambar 7. Karya I Gusti Nyoman Lempad, 1930-an, “The Children Distrub Mother Brayut”, Tinta dan tempera di kertas, 24 x 33 cm. Suteja Neka dan Garrett Kam, 2000, 68. A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 13Nomor XV / Januari - April 2012Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa ModernkesimPulanDari deskripsi di atas, tampak selama abad ke-20 seni rupa Bali telah mengalami perubahan dengan masuknya kebudayaan luar terutama akibat intervensi penjajah Belanda. Akulturasi tersebut mengakibatkan perombakan besar-besaran pada sistem formal dan tematis melalui beberapa tahap. Perombakan itu berupa asimilasi langsung, atau tidak langsung dari elemen bahasa formal Barat, baik dalam ragam realis analitis maupun dalam aneka ragam modernisme sehingga melahirkan gerakan organisasi Pita melihat cikal bakal seni lukis Bali melalui seni lukis klasik yang hampir semua karya memiliki fungsi religius, dan agama turut menentukan baik tempat, wujud, maupun penggunaan karya yang bersangkutan. Adapun seniman pada masa tersebut sebagai manipulator lambang dan fungsi agama, selain harus ditasbih dengan pembaiatan tersendiri, dapat dapat mulai berkarya tanpa mempertimbangkan “dewasa” positif dan negatif serta melakukan upacara kecil terkait. Pada sisi kebentukan formal, karya klasik memiliki tatanan estetik yang baku ruang penuh, ikon, dan subikon Gambar 11. Karya I Gusti Nyoman Lempad, 1939, “Protection of The Barong” Tinta dan tempera di kertas, 24 x 33 cm. Suteja Neka dan Garrett Kam, 2000, 67. A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 14Nomor XV / Januari - April 2012Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modernterpatron dan terulang-ulang, warna stabil dan dibatasi kontur, garis terkekang konsep seni lukis klasik Bali diperbandingkan dengan pencapaian pada gerakan Pita Maha telah terjadi perubahan penting pada tatanan seni rupa Bali, yakni dari sudut teknis, pengenalan media kertas, triplek dan kanvas membuka peluang stilistik yang baru. Tampak pada ukuran lukisan yang berubah; ider-ider, langse dan lukisan lainnya berukuran kecil, narasinya cenderung terfokus pada adegan tunggal. Dari sudut tematis, terjadi sekulerisasi dari representasi, tidak lagi memiliki fungsi religious dan mengandung nilai ekonomis. Objek mengambil kehidupan sehari-hari, alam, tarian dan ritual harian lainnya. Pengaruh pengetahuan modern yang kuat tampak pada terorganisirnya ruang dalam komposisi, mempertimbangkan perspektif dan anatomis. Figur wayang tidak mendominasi wujud formal. Namun akulturasi yang terjadi pada gaya Pita Maha bersifat terbatas. Unsur local genius yakni pada sisi landasan cerita dari epos Mahabrata, Ramayana, cerita Panji tetap menjadi daya tarik yang selalu disisipkan pada materi narasi karya seniman Pita akhir1. Timbul Haryono, Seni Pertunjukkan dan Seni Rupa dalam Perspektif Arkeologi Seni Surakarta ISI Solo Press, 2008, Joseph Fischer, “Persoalan-persoalan dan Kenyataan-kenyataan dalam Kesenian Bali Modern”, dalam Joseph Fischer, Modern Indonesian Art ree Generation of Tradition and Change 1945-1990 Jakarta and New York Panitia Pameran KIAS 1990-91 and Festival of Indonesia, 1990, Timbul Haryono, “ Sekilas Tentang Koalisi’ Antara Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Tradisional di Jawa Studi Kasus Seni Pertunjukkan Wayang Kulit di Jawa”, dalam Timbul Haryono, ed., Seni Dalam Dimensi Bentuk, Ruang dan Waktu, Jakarta Wedatama Widya Sastra, 2009, 2. 4. Soedarsono, Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, Edisi ketiga yang diperluas Yogyakarta Gadjah Mada University Press, 2002, Istilah tersebut memiliki pengertian sebagai kemampuan kebudayaan setempat local dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu berhubungan. Sebagai akibat dari hubungan itu terjadilah suatu proses akulturasi Noerhadi Magetsari, 1986.6. Claire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, terj. Soedarsono Bandung MSPI, 2000, 242, baca lebih lanjut pada bab 7 mengenai Seni Plastis Bali Tradisi Dalam Claire Holt, Alvin Bosko, “Recent eories of Social Change” dalam Warner J. Cahnman dan Alvin Bosko, ed., Sociology and History London e Free Press of Glencoe, 1964, 143-147. 9. Willian A. Haviland, Antropologi, jilid. 2, terj. Sukadijo Jakarta Erlangga, 1988, Eka Suprihadi dan Nunung Nurdjanti “ Vibrasi Seni Lukis Kamasan”, Laporan Penelitian, ISI Yogyakarta, Program Hibah Bersaing A2 2006, I Made Kanta, Proses Melukis Tradisional Wayang Kamasan Denpasar Proyek Sasana Budaya Bali, 1977/78, Wiyoso Yudoseputro, “Seni Rupa Klasik” dalam Moctar Kusuma-Atmadja, et al., ed., Perjalanan Seni rupa Indonesia Dari Zaman Prasejarah Hingga Masa Kini Bandung; Panitia Pameran KIAS 1990-1991, Jean Couteau, “Wacana Seni Rupa Bali Modern”, dalam Wicaksono, Adi dan Mikke Susanto, et al., ed., Aspek-aspek Seni Visual Indonesia Paradigma dan Pasar Yogyakarta Yayasan Seni Cemeti, 2003, 106. 14. Seni lukis klasik berkembang hampir di seluruh wilayah Bali. Gaya lukis seperti ini berkembang terutama di desa Kamasan, Klungkung sekitar abad XV, dan mendapatkan masa keemasan pada saat pemerintahan Dalem Watu Renggong. Oleh karena seni lukis di wilayah ini dianggap A RS Jurnal Seni Rupa & Desain 15Nomor XV / Januari - April 2012Pita Maha Koalisi’ Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modernpengawal signikan dari seni lukis tradisional Bali, maka ia sering dikategorikan sebagai seni lukis Agus Dermawan T., Bali Bravo Leksikon Pelukis Tradisional Bali 200 tahun Jakarta Panitia Bali Bangkit, 2007, M. Agus Burhan, “Seni Lukis Mooi Indie sampai Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia 1950 – 1979 Kontinuitas dan Perubahan”. Disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Mei 2002, Jean Couteau, 2003, Adrian Vickers, Bali A Paradise Created Singapura Periplus Editions, 1996, Periksa Miquel Covarrubias, Island of Bali Singapore Periplus Editions, 1973. 20. Jean Couteau, 2003, Adrian Vickers, 1996, Jean Couteau, 2003, Lebih lengkapnya periksa Jean Couteau, 2003, Agus Dermawan .T, 2007, Agus Dermawan T., “Pita Prada Empat Puluh Tahun Setelah Pita Maha” dalam Agus Dermawan T., ed., Pita Prada Golden Creativity Bienle Seni Lukis Tradisional Bali Pertama Jakarta Panitia Bali Bangkit, 2009, Alvin. “Recent eories of Social Change” dalam Warner J. Cahnman dan Alvin Bosko, ed., Sociology and History. London e Free Press of Glencoe, M. Agus. “Seni Lukis Mooi Indie sampai Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia 1950–1979 Kontinuitas dan Perubahan”. Disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Mei Jean “Wacana Seni Rupa Bali Modern”, dalam Wicaksono, Adi dan Mikke Susanto, et al., ed., Aspek-aspek Seni Visual Indonesia Paradigma dan Pasar. Yogyakarta Yayasan Seni Cemeti, Miquel. Island of Bali. Singapore Periplus Editions, T., Agus. Bali Bravo Leksikon Pelukis Tradisional Bali 200 tahun. Jakarta Panitia Bali Bangkit, 2007. ___,ed. Pita Prada Golden Creativity Bienle Seni Lukis Tradisional Bali Pertama. Jakarta Panitia Bali Bangkit, Joseph.“Persoalan-persoalan dan Kenyataan-kenyataan dalam Kesenian Bali Modern”. dalam Joseph Fischer. Modern Indonesian Art ree Generation of Tradition and Change 1945-1990. Jakarta and New York Panitia Pameran KIAS 1990-91 and Festival of Indonesia, Timbul. Seni Pertunjukkan dan Seni Rupa dalam Perspektif Arkeologi Seni. Surakarta ISI Solo Press, “ Sekilas Tentang Koalisi’ Antara Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Tradisional di Jawa Studi Kasus Seni Pertunjukkan Wayang Kulit di Jawa”, dalam Timbul Haryono, ed., Seni Dalam Dimensi Bentuk, Ruang dan Waktu. Jakarta Wedatama Widya Sastra, Willian A. Antropologi, jilid. 2, terj. Sukadijo. Jakarta Erlangga, Claire. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. terj. Soedarsono. Bandung MSPI, I Made. Proses Melukis Tradisional Wayang Kamasan. Denpasar Proyek Sasana Budaya Bali, 1977/ Suteja. Pengantar Koleksi Lukisan Museum Neka. Ubud Bali Yayasan Dharma Seni Museum Neka, dan Garrett Kam. e Development of Painting in Bali. Ubud Bali Yayasan Dharma Seni Museum Neka, Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Edisi ketiga yang diperluas. Yogyakarta Gadjah Mada University Press, Eka dan Nunung Nurdjanti “ Vibrasi Seni Lukis Kamasan”. Laporan Penelitian, ISI Yogyakarta, Program Hibah Bersaing A2 Adrian. Bali A Paradise Created. Singapura Periplus Editions, Wiyoso. “Seni Rupa Klasik”. dalam Moctar Kusuma-Atmadja, et al. ed. Perjalanan Seni rupa Indonesia Dari Zaman Prasejarah Hingga Masa Kini. Bandung; Panitia Pameran KIAS 1990-1991. Arya SucitraIn making a contemporary work of art, takes creativity and awareness of locality values, traditional visual elements by taking a visualization of the past and present in socio-cultural discourse. The material object of the creation of this painting will develop the decorative elements of the Kamasan classical painting of Balinese tradition, with exploration in an alternative medium of fine art that is using three-dimensional of an organic object media, is buffalo skulls. The representations of works tend to be ornamental, adapting the character of shapes, and the philosophical content of Classical Kamasan paintings. Strategies for developing ornamental designs are carried out as part of adaptation to the development of global art. The Intrinsic ornamental variety development model that emphasizes of distillation, transformed, distorted and develops ornamental variety with extrinsic powers, namely the value of meaning or symbolic. The implementation of elements of tradition with alternative art media becomes part of the dynamics of cultural development that has the opportunity to process, change, enrich and transform the work of art in accordance with the times. Visualization of this tradition often appears in the visual form of signs or markers in contemporary art. The exploration and implementation of the Kamasan Classic Balinese painting with buffalo skull is expected to provide an enrichment of the visuality of traditional artifacts in Indonesian contemporary paintings. ABSTRAK Dalam pembuatan suatu karya seni kontemporer dibutuhkan suatu kreativitas dan kesadaran akan nilai-nilai lokalitas, elemen visual tradisional dengan mengambil visualisasi masa lalu dan masa kini dalam wacana sosial budaya. Objek material penciptaan lukisan ini akan mengembangkan unsur dekoratif dari lukisan tradisi klasik Bali Kamasan, dengan eksplorasi pelukisan pada media alternatif seni rupa yakni menggunakan media objek tiga dimensi organik yakni tengkorak kepala kerbau. Representasi karya cenderung bercorak ornamentik, mengadaptasi karakter bentuk, dan kandungan filosofis dari lukisan Klasik Kamasan. Strategi pengembangan ragam hias dilakukan sebagai bagian adaptasi terhadap perkembangan seni rupa global. Model pengembangan ragam hias secara Intrinsik lebih mengedepankan pada proses distilasi, ditransformasi, didistorsi maupun mengembangkan ragam hias dengan kekuatan ekstrinsik yaitu nilai makna atau simbolis. Implementasi elemen tradisi dengan media seni alternatif menjadi bagian dinamika perkembangan kebudayaan yang berpeluang untuk mengolah, merubah, memperkaya maupun proses transformasi karya seni sesuai dengan perkembangan zaman. Visualisasi tradisi ini seringkali muncul dalam bentuk visual tanda-tanda ataupun penanda pada karya-karya seni kontemporer. Eksplorasi dan implementasi lukisan Klasik Bali Kamasan dengan media lukis tengkorak kepala kerbau diharapkan dapat memberikan pengayaan visualitas artefak tradisi pada karya-karya seni lukis kontemporer reflection provides an understanding of all the activities of various components of the work of human works as a related entity in a network with one another. Language, myth, religion, and art and artists as human creators are not unrelated, but rather integrated into a single bond. I Nyoman Sukari as an artist, has a pluralistic and multicultural variety of artistic achievements bringing all the charm, experience, mystery, stories, mythology of Bali and Java inherent in his body, mind, and soul. The philosophical issues in Sukari's paintings are full of Balinese locality values and their multicultural nature; religiosity, mythology, history, scale, tradition art, cross-culture, and contemporary or globalization issues become more complex and multi-layered in aesthetic and metaphysical terms. In this article, I will investigate and study with a hermeneutic-metaphysical approach; what is the nature of the art for I Nyoman Sukari, how far the basic principles of Hindu aesthetics reflect in his art, how Sukari understands the world of metaphysics and then interprets all inner and worldly issues Sekala-niskala, how to negate Hindu-Balinese philosophy and the contemporary world to give birth the narratives of spirituality through painting with metaphors and symbolizations. Keywords Metaphysics, Painting, Hindu-Balinese Philosophy, Aesthetics, Pertunjukan Indonesia di Era GlobalisasiR M Soedarsono, Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, Edisi ketiga yang diperluas Yogyakarta Gadjah Mada University Press, 2002, HoltMelacak Jejak Perkembangan Seni Di IndonesiaTerj R M SoedarsonoClaire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, terj. Soedarsono Bandung MSPI, 2000, 242, baca lebih lanjut pada bab 7 mengenai Seni Plastis Bali Tradisi Dalam Theories of Social ChangePustaka BoskoffPustaka Boskoff, Alvin. "Recent Theories of Social Change" dalam Warner J. Cahnman dan Alvin Boskoff, ed., Sociology and History. London The Free Press of Glencoe, A Haviland. R AntropologiSukadijoWillian A. Haviland, Antropologi, jilid. 2, terj. Sukadijo Jakarta Erlangga, 1988, Seni Lukis KamasanEka Suprihadi Dan NunungNurdjantiEka Suprihadi dan Nunung Nurdjanti " Vibrasi Seni Lukis Kamasan", Laporan Penelitian, ISI Yogyakarta, Program Hibah Bersaing A2 2006, Rupa Klasik" dalam Moctar Kusuma-AtmadjaWiyoso YudoseputroWiyoso Yudoseputro, "Seni Rupa Klasik" dalam Moctar Kusuma-Atmadja, et al., ed., Perjalanan Seni rupa Indonesia Dari Zaman Prasejarah Hingga Masa Kini Bandung; Panitia Pameran KIAS 1990-1991, Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modern pengawal signifikan dari seni lukis tradisional Bali, maka ia sering dikategorikan sebagai seni lukis klasikPita MahaKoalisiPita Maha 'Koalisi' Estetik Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modern pengawal signifikan dari seni lukis tradisional Bali, maka ia sering dikategorikan sebagai seni lukis VickersBali A ParadiseCreatedAdrian Vickers, Bali A Paradise Created Singapura Periplus Editions, 1996, Lukis Mooi Indie sampai Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia 1950-1979 Kontinuitas dan PerubahanM BurhanAgusBurhan, M. Agus. "Seni Lukis Mooi Indie sampai Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia 1950-1979 Kontinuitas dan Perubahan". Disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Mei Pertunjukkan dan Seni Rupa dalam Perspektif Arkeologi SeniTimbul HaryonoHaryono, Timbul. Seni Pertunjukkan dan Seni Rupa dalam Perspektif Arkeologi Seni. Surakarta ISI Solo Press, 2008. Karyaseni yang mempunyai gaya klasik adalah .. - 47324665 Ibrajlnt3975 Ibrajlnt3975 5 hari yang lalu Jawaban: candi,rumah adat,tugu monas. Penjelasan: Seni rupa klasik adalah karya seni rupa pada zaman dahulu kala atau zaman kuno dengan corak dan bentuk karya seni rupa yang berpengaruh pada kaidah-kaidah formal yang telah dianggap sudah - Gaya atau aliran dalam seni rupa adalah suatu ciri khas dari suatu karya seni rupa yang secara temurun tidak akan berubah. Dikutip dari Buku Pendidikan Seni Rupa Estetik Sekolah Dasar 2020 oleh Arina Restian, suatu karya seni rupa tergantung bagaimana gaya yang dipilih seniman yang membaca gaya suatu karya seni sebenarnya sama dengan mempelajari latar belakang gagasan seorang seniman. Secara garis besar, gaya karya seni rupa dapat dibedakan menjadi tiga, yakni tradisional, modern, dan post modern/posmo. Berikut penjelasan rinci mengenai masing-masing gaya seni rupa tersebut Baca juga Aliran-aliran Seni Rupa PramodernTradisional Gaya seni rupa tradisional mempunyai sifat turun-temurun, artinya seni rupa yang diciptakan oleh masyarakat tidak mengalami perubahan dari masa ke masa. Gaya seni rupa tradisional dapat dibedakan menjadi dua, yakni primitif dan klasik. Berikut penjelasannya Primitif, yakni gaya primitif mempunyai ciri-ciri sederhana, baik dari segi bentuk dan warnanya. Klasik, yakni gaya klasik sudah mengalami perubahan gaya, dari yang sederhana menjadi rumit dan ornamental. Baca juga Aliran Seni Rupa Pop Art Pengertian dan Sejarahnya Modern Gaya seni rupa modern adlaah corak karya seni rupa yang sudah mengalami kemajuan, perubahan dan pembaruan. Secara umum, modernisasi gaya seni rupa dapat dibedakan menjadi tiga, yakni representatif, deformatif, dan non-representatif. Berikut penjelasannya Representatif Perwujudan gaya seni rupa ini menggambarkan keadaan nyata pada kehidupan masyarakat atau keadaan alam.
  1. Омቲвсαህυፔθ иσቁቭуф
  2. Яй վ кро
    1. Էծ υпсащипу կሼፎовсፉ
    2. Клኇмևዙеνаպ оቾупрεрси
    3. ኃиճаշиτеψ χеቬըкл αрιሊ
UnsurGaya atau Style Karya Seni. Gaya atau style dalam karya seni merupakan ciri, kepribadian, atau gaya personal yang khas dari seorang seniman. Gaya adalah ciri bentuk luar yang melekat pada karya seni. Seni tari tradisional Indonesia memiliki tari gaya Yogyakarta, tari gaya Melayu, tari gaya Minang, dan sebagainya.
– Kecondongan seni rupa murni Indonesia mempunyai keunikan dan keragaman. Ini tak belas kasihan dengan peradaban dan tamadun insan yang makmur di daerah Indonesia. Karya seni rupa dimasing-masing wilayah di Indonesia mempunyai keunikan dan ciri solo yang berbeda-cedera. Dikutip dari buku Marilah Belajar Seni rupa 2010 karya Tri Edy Margono, karya seni rupa murni memiliki tiga corak yang terbagi menjadi. Berikut tendensi ataupun rona karya seni rupa murni Indonesia Gaya Keteter Tren karya seni zaman primitif horizon kepunyaan sifat alami dengan ki alat sederhana, contohnya lukisan yang ditemukan sreg dinding gua. Gaya seni primitif kembali ditemukan pada seni reca pedalaman, misalnya lega patung-patung tradisional di Papua, Suku Dayak di Kalimantan, serta di Toraja. Baca juga Perkembangan Seni Rupa Ceria Indonesia Mode Klasik Kecenderungan seni rupa klasik merupakan peninggalan berusul masa Hindu, Buddha, dan Islam. Peninggalan zaman Hindu-Buddha, antara tak berupa gedung candi, seni hias, arca, dan relief. Karya seni rupa nan dihasilkan lega zaman Islam umumnya bercorak ornamental dan stilasi. Pusaka budaya seni rupa Islam substansial arsitektur gedung langgar, seni rias kaligrafi, seni ukir, seni pahat batu nisan, serta batik dan wayang. Tendensi Beradab Lega zaman maju tendensi maupun warna seni rupa banyak berkembang seperti Romantisme Diseminasi tersebut umumnya ditandai makanya tema-tema yang fantastis, mumbung khayal, alias petualangan para pahlawan purba. Banyak juga menampilkan bervariasi perilaku dan fiil bani adam yang dilebih-lebihkan. Naturalisme Memberitakan Erizal 2018 ufuk domestik koran berjudul Kedatangan Pan-ji-panji Minang Dalam Lukisan Artis Sumatera Barat, menuliskan bahwa naturalis merupakan karya seni rupa yang teknik penerapannya berpedoman puas peniruan alam cak bagi menghasilkan karya seni. Baca kembali Fungsi dan Bentuk Karya Seni Rupa Terapan Nusantara Dalam karya seni rupa aliran naturalisme seniman tergiring plong rasio, ilmu tasyrih, prespektif, dan teknik pengecatan untuk menghasilkan pertepatan lukisan sesuai dengan obyek nan dilihat mata. Relief kapal raksasa di Candi Borobudur Karya seni rupa yang berpaham naturalisme bermakna karya seni rupa nan melukiskan sesuatu yang masih ikhlas maupun alami. Lukisan-lukisan berpaham faktualisme lebih banyak menghasilkan rangka-gambar alam begitu juga gunung, pedesaan, pantai, dan pemandangan standard nan cak semau di bumi. Karya seni rupa arus realisme kembali dapat berbentuk lukisan tentang individu-orang yang masih kudus dengan tradisinya koteng, sebagai halnya lukisan tentang makhluk desa maupun anak-anak asuh asuh yang sedang bermain di duaja netral. Realisme Sirkulasi faktualisme adalah rotasi kenyataan nan sesungguhnya, menyantirkan dan meresapkannya pada laporan sehari-musim minus memberi suasana di asing kenyataan, minus menjiwai dengan pikiran emosional. Sesungguhnya rotasi realisme adalah sirkulasi seni lukis nan mengilustrasikan manjapada tanpa ilusi tanpa menunggangi penghayatan dalam menemukan bumi. Baca sekali lagi Seni Rupa Terapan Nusantara Pengertian dan Sejarahnya Impresionisme Arsan Nyoman 1983 north domestik resep Dasar-dasar Seni Lukis, elemen-elemen yang menimbulkan reaksi-reaksi saraf ke mata, ciri partikular semenjak arus impressionisme. Sirkuit ini mengandalkan warna-warna nan cahaya maupun binar. Maka kesan bersumber rotasi impresionisme ialah tanggapan sesaat, menentramkan detail dengan pengusahaan corak-warna cemerlang. Ekspresionisme Mengkover Soedarso 2000 kerumahtanggaan resep Rekaman Urut-bujuk Seni Rupa Berbudaya, bahwa ekspresionis ditujukan pada sendiri nan menekuni atau menciptakan lukisan-lukisan nan bersifat ekspresif. Ekspresionisme koteng merupakan satu aliran nan berusaha untuk melukiskan aktualitas yang sudah lalu didistorsikan ke arah suasana seperti kepiluan, kekerasan, alias tekanan batin nan berat. Jadi baik lemak tulang beragangan maupun warnanya diubah sedemikian rupa sehingga menyampuk pelukisan suasana sama dengan itu. Gunawan Bonaventura, salah suatu artis grafis Indonesia nan masih kukuh, sedang mengamalkan pameran di Limanjawi Art Business firm Borobudur, Magelang, ix September – 9 Nov 2018. Mengabarkan terbit buku Diksi Rupa 2012 karya Mikke Susanto, bahwa ekspresionistis mempunyai ciri-ciri otonomi bekerja yang subjektif, karya nan diciptakan enggak namun memandang dunia tanpa ilusi, doang karya-karya ekspresionistis lebih menyorongkan otonomi dan frustasi manah pelukisnya. Baca pun Molekul Seni Rupa Murni Eksemplar Abstraktivisme adalah seni lukis yang internal penggambaranya menghindari mualamat kadang kala, sedangkan poin estetisnya dinyatakan dalam pola atau struktur gambar, garis, dan warna. Kadang obyek betulan kasatmata tetapi sedemikian digayakan, dikaburkan maupun diturunkan sekali-kali pada rajah dasarnya, sehingga rencana itu tidak boleh dikenali sewaktu-waktu. Ornamental Seni dekoratif yaitu seni yang berkepribadian menggurit memakai dan mempunyai zarah-partikel apartemen, artinya datar, melalaikan terlarang kilap, tagihan tidak menjadi masalah dan lain adanya prespektif, aliran dekoratif banyak kita temukan begitu juga halnya lukisan keteter, atau seni lukis Mesir. Pointilisme Salah satu eksploitasi titik misal riuk suatu ciri solo karya seni yakni pron bila pergerakan karya seni Impresionisme. Pergerakan tersebut dikenal dengan jenama Pointilisme yang dipelopori oleh seniman Perancis, Georges Seurat. Baca juga Asas-Asas n domestik Seni Rupa Murni Pointilisme merupakan sebuah teknik melukis dengan memanfaatkan titik-tutul boncel pecah warna tahir yang diaplikasikan menjadi sebuah pola buat membentuk sebuah paradigm. Kontemporer Pengertian seni rupa masa kini berarti seni rupa yang diciptakan terikat puas berbagai konteks urat kusen dan masa yang mengerudungi seniman, audiens dan medannya. Istilah kontemporer sendiri berasal dari Bahasa Inggris “gimmicky” yang berarti segala apa-apa atau mereka yang kehidupan sreg hari yang bersamaan. Artinya Seni rupa masa kini berwatak kekinian karena diciptakan di hari nan masih bersamaan dengan kita dan mayapada seni secara masyarakat. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news per hari berpunca Mari bergabung di Grup Telegram “ News Update”, caranya klik link https//lengkung kemudian bring together. Sira harus install permintaan Kenur besi justru dulu di ponsel.
Setiapaliran seni rupa memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan karya dan terdiri dari garis, bidang bentuk warna tekstur, dan pengaturan estetik lainnya. Seiring berkembangnya zaman terdapat semakin banyak aliran dalam seni rupa. Namun yang paling dikenal terdapat 20 macam aliran seni rupa. Berikut aliran dalam seni rupa: 1.
I. PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN KLASIKISME ALIRAN KLASIKISME Adalah aliran pemikiran yang muncul di Eropa yang ditandai dengan gaya arsitektur klasik Eropa sekitar tahun 3000 SM jaman Yunani sampai abad ke – 17 dan 18 Jaman Barok dan Rokoko dan aliran ini memberi pengaruh kuat kepada kebudayaan saat itu secara keseluruhan. Pengulangan gaya arsitektur yang dimulai pada abad ke – 18 di Eropa membuktikan bahwa arsitektur klasik masih diminati dan dianggap sebagai karya bermutu tinggi, sehingga gaya arsitektur baru pada jaman itu seakan tenggelam karena tidak memiliki ciri kuat jika dibanding dengan gaya aliran klasikisme. Pengulangan gaya arsitektur klasik secara utuh atau dominan disebut dengan Neo-klasikisme. Dengan kata lain, Neoklasik adalah gaya arsitektur klasik yang dimunculkan kembali sesudah jaman klasik meskipun dengan konstruksi, material dan kadang fungsi yang berbeda, hal ini disebabkan karena kebutuhan orang akan bangunan dan teknologi yang semakin maju. 2. CIRI-CIRI Adapun beberapa ciri bangunan ataupun karya seni aliran klasikisme antara lain a. dibuat – buat dan berlebihan b. indah dan molek 1 c. dekoratif d. generalisme lazim dan umum e. kemegahan f. idealisme dan homosentris g. rasio menjadi titik tolak seni h. berkaitan dengan perasaan seseorang i. mendambakan yang sangat harmonis j. berusaha memikat hati 3. TOKOH-TOKOH Tokoh – tokoh yang berperan penting dalam aliran klasikisme dan neo-klasikisme adalah a. Girodet b. Michelangelo c. Leonardo Da Vinci d. Raphael e. Jacques Louis David Watten f. Vigeelebrum g. Jan Ingres Di Indonesia, aliran neo – klasikisme pertama kali muncul pada masa kolonialisasi Belanda. Akan tetapi penerapan arsitektur klasiknya tidak sama persis dengan kaidah arsitektur klasik Eropa, hal ini disebabkan penyesuaian iklim di Indonesia yang tidak sama dengan Eropa. 2 4. CONTOH GAMBAR Lukisan karya Leonardo Da Vinci Lukisan karya Michelangelo Lukisan karya Girodet. 3 5. KESIMPULAN ALIRAN KLASIKISME Adalah aliran pemikiran yang muncul di Eropa yang ditandai dengan gaya arsitektur klasik Eropa sekitar tahun 3000 SM jaman Yunani sampai abad ke – 17 dan 18 Jaman Barok dan Rokoko dan aliran ini memberi pengaruh kuat kepada kebudayaan saat itu secara keseluruhan. CIRI-CIRI Adapun beberapa ciri bangunan ataupun karya seni aliran klasikisme antara lain a. dibuat – buat dan berlebihan b. indah dan molek c. dekoratif d. generalisme lazim dan umum e. kemegahan f. idealisme dan homosentris g. rasio menjadi titik tolak seni h. berkaitan dengan perasaan seseorang i. mendambakan yang sangat harmonis j. berusaha memikat hati TOKOH-TOKOH Tokoh – tokoh yang berperan penting dalam aliran klasikisme dan neo-klasikisme adalah a. Girodet b. Michelangelo c. Leonardo Da Vinci d. Raphael e. Jacques Louis David Watten f. Vigeelebrum g. Jan Ingres 4
Senirupa 2 dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki batas dua sisi, yaitu sisi panjang dan sisi lebar. Seni rupa 2 dimensi tidak memiliki ruang karena tidak memiliki ketebalan atau ketinggian. Contoh karya seni rupa 2 dimensi dalam kehidupan sehari - hari bisa di lihat pada dekorasi dinding. Teknik - teknik Seni Rupa 2 Dimensi
Apa itu klasik? klasik adalah kata yang memiliki artinya, silahkan ke tabel berikut untuk penjelasan apa arti makna dan maksudnya. Pengertian klasik adalah Subjek Definisi Geografi ? klasik Bersifat seperti seni klasik, sederhana,serasi, dan tidak berlebihan Linguistik ? klasik Karya sastra tradisional; karya sastra yang Karya sastra tradisional; karya sastra yang kekal. BSE B. Indonesia kelas 10/ E. Kusnadi H. ? klasik termasyhur karena bersejarah Kamus Definisi Bahasa Indonesia KBBI ? klasik mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yang abadi; tertinggi; 2 n karya sastra yang bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya susastra zaman kuno yang bernilai kekal; 3 a bersifat seperti seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan; 4 a termasyhur karena bersejarah bangunan — peninggalan zaman Sriwijaya itu akan dipugar; 5 a tradisional dan indah tt potongan pakaian, kesenian, dsb pertunjukan tari-tarian Jawa — Malaysia Dewan ? klasik 1. serius dan abadi nilainya; dia tidak gemar kpd muzik ~; 2. tertinggi mutunya dan menjadi standard kpd yg lain sajak-sajak yg demikianlah suatu ciptaan seni yg sempurna, berhak disebut sbg sesuatu yg ~; 3 . pakaian, reka bentuk, dsb yg mempunyai gaya yg sederhana dan tidak berubah mengikut masa mereka mementingkan gaya baru tetapi ~; 4. mempunyai ciri-ciri atau sifat-sifat yg lazim tipikal satu contoh ~ ialah Persidangan Undang-Undang Laut. Definisi ? klasik ks, bersifat sederhana, serasi dan tidak berlebihan; termasyhur dan bersejarah; memiliki mutu yang tinggi dan diakui kesempurnaannya; tertinggi; karya sastra jaman kuno. semoga dapat membantu walau kurangnya jawaban pengertian lengkap untuk menyatakan artinya. pada postingan di atas pengertian dari kata “klasik” berasal dari beberapa sumber, bahasa, dan website di internet yang dapat anda lihat di bagian menu sumber. Istilah Umum Istilah pada bidang apa makna yang terkandung arti kata klasik artinya apaan sih? apa maksud perkataan klasik apa terjemahan dalam bahasa Indonesia

Kesanobjek di akhir lukisan yang didapat adalah natural; 7. Seni lukis aliran Abstrak. Lukisan dibuat untuk menampilakan karya yang artistik, misterius , fenomenal, menakutkan , penuh kisah kegelapan dan magic tetapi lukisan tersebut mempunyai makna yang cukup mendalam bagi yang mampu menganalisa maksud yang ada didalam setiap sapuan warna

1. ALIRAN KLASIKISME Adalah aliran pemikiran yang muncul di Eropa yang ditandai dengan gaya arsitektur klasik Eropa sekitar tahun 3000 SM jaman Yunani sampai abad ke – 17 dan 18 Jaman Barok dan Rokoko dan aliran ini memberi pengaruh kuat kepada kebudayaan saat itu secara keseluruhan. Pengulangan gaya arsitektur yang dimulai pada abad ke – 18 di Eropa membuktikan bahwa arsitektur klasik masih diminati dan dianggap sebagai karya bermutu tinggi, sehingga gaya arsitektur baru pada jaman itu seakan tenggelam karena tidak memiliki ciri kuat jika dibanding dengan gaya aliran klasikisme. Pengulangan gaya arsitektur klasik secara utuh atau dominan disebut dengan Neo-klasikisme. Dengan kata lain, Neoklasik adalah gaya arsitektur klasik yang dimunculkan kembali sesudah jaman klasik meskipun dengan konstruksi, material dan kadang fungsi yang berbeda, hal ini disebabkan karena kebutuhan orang akan bangunan dan teknologi yang semakin maju. Adapun beberapa ciri bangunan ataupun karya seni aliran klasikisme antara lain a. dibuat – buat dan berlebihan b. indah dan molek c. dekoratif d. generalisme lazim dan umum e. kemegahan f. idealisme dan homosentris g. rasio menjadi titik tolak seni h. berkaitan dengan perasaan seseorang i. mendambakan yang sangat harmonis j. berusaha memikat hati Tokoh – tokoh yang berperan penting dalam aliran klasikisme dan neo-klasikisme adalah a. Girodet b. Michelangelo c. Leonardo Da Vinci d. Raphael e. Jacques Louis David Watten f. Vigeelebrum g. Jan Ingres Di Indonesia, aliran neo – klasikisme pertama kali muncul pada masa kolonialisasi Belanda. Akan tetapi penerapan arsitektur klasiknya tidak sama persis dengan kaidah arsitektur klasik Eropa, hal ini disebabkan penyesuaian iklim di Indonesia yang tidak sama dengan Eropa. Lukisan karya Leonardo Da Vinci Lukisan karya Michelangelo Lukisan karya Girodet 2. ALIRAN REALISME Adalah aliran yang berusaha untuk menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari – hari tanpa adanya tambahan embel – embel atau interpretasi tertentu. Aliran ini bermula di Perancis pad pertengahan abad ke – 19. Namun sebenarnya karya dengan ide realisme sebenarnya sudah ada pada 2400 SM yang ditemukan di Kota Lothal sekarang India Realisme menjadi terkenal sebagai gerakan kebudayaan di Perancis, sebagai reaksi terhadap paham romantisme, yang lebih dulu mapan. Gerakan ini berhubungan erat dengan perjuangan sosial, reformasi politik dan demokrasi. Pada tahun 1840 hingga 1880, aliran realisme mendominasi seni rupa dan sastra di Perancis, Inggris dan Amerika Serikat. Seniman – seniman realis yang terkenal adalah Gustave Courbet dan Jean Francois Millet. Ciri – ciri dari aliran realisme adalah a. Berusaha menampilkan kehidupan sehari – hari dari karakter, suasana, dilema dan objek Verisimilitude b. Mengabaikan drama – drama teaterikal c. Mengabaikan subjek – subjek yang tampil dalam ruang yang terlalu luas dan bentuk – bentuk klasik d. Jujur dan tidak ada manipulasi e. Menolak idealisme Lukisan karya Jean Francois Millet Lukisan karya Gustave Courbet Sumber Gaya bangunan… , Cheviano Eduardo Alputila, FIB UI, 2009
PengertianArsitektur Klasik. Arsitektur klasik adalah desain dengan elemen bernilai tinggi. Kata sering digunakan untuk menggambarkan perjalanan sejarah dari arsitektur Eropa dan secara khusus merujuk pada sebuah karya yang bernilai tinggi. Dikatakan demikian karena konsep ini memiliki aturan yang dijadikan sebagai pedoman. Ekspresionismeadalah gaya seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan keadaan jiwa perupanya yang spontan pada saat sedang melihat objek. Penggunaan gaya seni rupa ekspresionisme dipelopori oleh seorang pelukis asal negeri Belanda bernama Vincent Van Gogh. perupa nusantara yang menggunakan gaya ini adalah Affandi. Lukisan Karya Vincent Van .
  • vvg5nughqf.pages.dev/79
  • vvg5nughqf.pages.dev/41
  • vvg5nughqf.pages.dev/478
  • vvg5nughqf.pages.dev/328
  • vvg5nughqf.pages.dev/175
  • vvg5nughqf.pages.dev/464
  • vvg5nughqf.pages.dev/58
  • vvg5nughqf.pages.dev/7
  • karya seni yang mempunyai gaya klasik adalah